Kamis, 08 Desember 2011

Ta 'kan kucorengi putih suci baktimu


                Guruku,
                Engkau tahu
                Tak pernah terbelah keyakinanku padamu
                Tak bisa di tawar ketulusanmu padaku

                Guruku,
                Aku tahu!
                Karena engkau kini aku mengerti
Mengapa jagad hanya terang di kala siang
Karena engkau kini aku pahami
Delapan denan adil ku bagi empat masing-masing dua

Sekalipun tak pernah kupungkiri itu
Sedikitpun tak pernah kuragukan itu

Aku, kita, kami semua yang masih punya hari
Berjanji tak ‘kan corengi putih suci baktimu
Aku, kita, kami semua yang masih manusia
Bersumpah tak ingin siakan setiap tetes keringatmu

Saat ini tak ada yang dapat kami berikan
‘tuk balaskan jasa dan tulus pengabdianmu
Namun dengarkanlah gema dari sudut hati ini
Yang melapazkan satu untaian kata jiwa,
Terima kasih untuk pahlawanku yang tak’ kan pernah
Mati dari hidup dari hati kami  

Kuharap baktimu bagai karang di lautan



                Aku bersumpah . . .
                                Atas setiap tetes keringatmu
                                Atas semua bakti waktu dan tenagamu
                                Aku berikrar tak ‘kan kusia-siakan
                                Semua itu

                Aku berjanji . . .
                                Dengan seluruh daya yang kupunya
                Akan ku bina bakat dan pupuk keahlian
                Untuk meraih dan menggenggam prestasi
                Sebagai bingkisan trima kasih padamu

                Guruku . . .
                Tak kuharap baktimu bak’ megah pelangi nan semu
                Tak kuharap pengabdianmu bak’ kerlip pelangi sesaat
                Guruku . . .
                Kuharap baktimu bagai karang menjulang di lautan
                Yang tetap tegar walau sribu gempuran ombak menyerbu
                Dan kuharap selalu kasih sayangmu
                Abadi bersemayam dalam benak seluruh anak negeri  

                 

Haruskah luka kembali menganga


                Dara tetes darah yang tersisa
                Dan dari desah nafas yang masih mendesah
                Kami coba rajut jiwa dan bangkit berdiri

                Rapi kami rawat luka kami
                Senada tlah detak jantung kami
                Jaya hampar terangkul
Sejahtera sekali lagi terangpai 
Sebentar lagi, yah sebentar lagi

Namun bagai debu yang tak berarti
Mengapa bisa kandaskan semua
Cita dan asa serta hasrat jiwa
Haruskah kini luka kembali menganga
Seandainya kita satu dan menyatu
Bagai debu bisa kita hadang
Dan kita bisa terus berjalan
Mendayung sampan, menuju pulau tempat harapan

Apa saja .... demi teman


               Sudah lama aku bersusah payah agar diterima oleh sekelompok anak yang menjadi teman bermainku-Jared, Todd, Denis, dan Greg.  Aku mau melakukan apa saja demi mereka. Waktu semua kursus karate, aku juga ikutan. Pada mulanya, mereka kebanyakan lebih mahir karate daripada aku, tetapi aku terus melatih gerakanku dengan tekun. Aku ingin menunjukkan bahwa aku mampu mengimbangi mereka. Dan ternyata aku mampu. Saat mereka semua membeli skateboard, aku juga beli. Kami melakukan gerakan-gerakan keren denan skateboard. Aku lebih rajin memainkan skateboard-ku dibandingkan dengan mereka. Aku bukannya sombong, Tanya saja mereka.
                Berteman dengan mereka amat berarti bagiku. Jadi, seperti yang ku bilang, aku rela melakukan apa saja demi mereka. Misalnya, waktu Todd memintaku mencari jawaban ulangan matematika jam pelajaran kedua, ku katakan, “BERES”. Kucarikan jawabannya. Itulah yang namanya teman. Teman itu saling membantu; terutama, mereka saling menolong saat dibutuhkan. Setidaknya, itulah yang ku sangka!
                Lalu, minggu lalu skateboard-ku rusak saat aku meluncur di suatu tanjakan tajam, dan skateboard-ku terlontar jatuh. Aku tidak cidera, tetapi papanku rusak. Jadi, aku bertanya kepada Todd, apakah aku boleh memakai kepunyaannya. Katanya, “enak saja, aku ingin skateboard-ku tetap utuh. “aku juga bertanya kepada Jared, Denis, dan Greg. Semua tertawa dan mengatakan hal yang sama. Rasanya sulit dipercaya. Kalau aku, pasti aku mau meminjamkan skateboard-ku sebentar kalau hal yang sama terjadi pada mereka. Akan tetapi, tak satupun dari mereka mau melakukan hal itu untukku.
                Mungkin kakakku benar. Dia bilang, aku tak harus terus membuktikan diriku pada temanku. Sekarang aku kecewa kepada Jared, Denis, dan Greg karena kusangka teman saling membantu, tetapi mereka tidak membalas kebaikanku.

Selasa, 06 Desember 2011

Nyi anteh sang penunggu bulan

    Nyi anteh pada jaman dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan yang bernama kerajaan pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang sangat subur dan memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai dibawah pimpinan raja yang bijaksana.
    Di dalam istana ada dua gadis remaja yang sangat jelita dan selalu kelihatan rukun. Yang satu bernama Endahwarni dan satu lagi bernama Anteh. Raja dan ratu sangat menyayangi keduanya, meski sebenarnya kedua gadis itu memiliki status sosial yang berbeda. Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sedangkan Nyai Anteh adalah hanya anak seorang dayang kesayangan sang ratu. Karena Nyai Dadap, ibu Nyai Anteh sudah meninggal saat melahirkan Anteh, maka sejak saat itu Nyai Anteh dibesarkan bersama putri Endahwarni yang kebetulan juga baru lahir. Kini setelah Nyai Anteh menginjak remaja, dia pun diangkat menjadi dayang pribadi putri Endahwarni.

Mensyukuri apa yang telah di miliki


Mengapa semua manusia tidak mensyukuri apa yang di berikan oleh tuhan begitupun aku ketika aku di berikan tubuh yang sehat tidak gemuk aku mengeluh ingin gemuk tapi ketika keinginanku di kabulkan oleh tuhan aku tidak ingin di berikan tubuh seperti ini tuhan kini aku harus berjuang mengenbalikan tubuh ini seperti semula banyak orang yang mengejekku dengan keadaanku seperti ini  begitupun pacarku bukannya ia mendukung tapi ia juga malah mengejekku aku cukup malu dengan keadaanku seperti ini tuhan muali hari ini detik ini aku akan mensyukuri apa yang diberikan olehmu dan semoga aku dapat mengenbalikan tubuhku seperti semula semoga aku bisa aku akan tunjukan kepada mereka semua orang akan berubah apabila ada kemauan yang di awali dari hati.

Rasanya ketikaku di ejek oleh semua orang hatiku sedikit terpukul dengan keadaanku seperti ini sahabatku yang ku sayang dia juga malah mengejekku karena keadaanku seperti ini ya tuhan mengapa di saat aku terpukul dengan keadaan tubuhku seperti ini tidak ada orang yang mengertikan perasaanku orang-orang yang ku sayang semula menyayangiku mereka berubah kepadaku apakah mereka menyayangiku tidak tulus?tapi aku akan berjuang mengembalikan tubhku seperti semula agar semua orang yang ku sayangi kembali kepelukanku .

Tuhan bagaimanakah jika aku tidak berhasil mengenbalikan tubuhku seperti semula?apakah semua orang akan menjauhiku?jika itu benar betapa sedihnya hati ini karena mereka tidak menyayangiku apa adanya ,perjuanganku tidak akan putus meskipun godaan terus menghantuiku,aku harus turun berat badan HARUS HARUS HARUS  “Semoga Aku Bisa” ^amien^

Tekatku dimulai dari sekarang.



   Tekat itu di dadasri dengan pernuh kesabaran, do'a tanpa harus mengeluh. Karena sesungguhnya tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan manusia itu sendiri.